Jumat, 16 Agustus 2013

Stadion Bumi Sriwijaya

Stadion Bumi Sriwijaya
Stadion Bumi Sriwijaya adalah sebuah stadion yang terletak di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. Stadion ini dipergunakan untuk menggelar pertandingan sepak bola dan merupakan markas untuk tim sepak bola PS Palembang dan Sriwijaya FC U-21. Stadion ini memiliki kapasitas 15.000 orang.

Alamat : Jalan Angkatan 45 (Jalan POM IX), Jakabaring Palembang.

Masjid Agung Al Falah Jambi

Masjid Agung Al Falah Jambi

Masjid Agung Al-Falah adalah masjid yang terbesar di kota Jambi, Indonesia. Masjid ini juga dikenal dengan Masjid 1000 Tiang, meskipun jumlah tiangnya hanya 256 buah. Masjid ini dibangun pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1980. Bangunan masjid ini memang hanya seperti sebuah pendopo terbuka dengan banyak tiang penyangga dan satu kubah besar di atasnya. Bentuk bangunan dengan konsep keterbukaan tanpa sekat seperti ini menghasilkan konsep ramah.

Alamat : Jalan Sultan Thaha No.60 Jambi.

Minggu, 28 Juli 2013

Keliling Jawa Tengah Modal Minim Ala Backpacker



Uang pas-pasan bukan halangan untuk traveling apalagi dengan gaya backpacker. Bermodalkan uang Rp 500 ribu, road trip keliling Jawa Tengah sampai Yogyakarta bisa dilakukan. Nekat tapi seru!

Mei lalu, saya pergi dengan tekad dan nekat mewujudkan mimpi mumpung masih muda, 22 tahun. Dengan uang yang saya miliki hanya Rp 500 ribu tunai dan Rp 100 ribu di ATM, cekak belum gajian, tujuan saya hanya satu: Dieng.

Pada masa saya sekolah tepatnya SMP, saya telah menyukai alam Indonesia yang memang telah diakui keindahannya. Sampai akhirnya saya tekadkan diri saya, apabila saya telah mempunyai uang saya ingin menikmati alam Indonesia. Singkat cerita saya telah bekerja di salah satu bank swasta dan memiliki gaji yang bisa dibilang lumayan dengan kondisi saya yang masih single.

Sebelumnya saya telah menikmati alam Cirebon, Kuningan, Pangandaran, Green Canyon, dll. Namun untuk cerita yang satu ini, saya harus memutar otak agar impian saya terwujud. Kondisi pada saat itu sedang cekak karena saya gajian tanggal 23 sedangkan keberangkatan saya tanggal 16 Mei.

Dengan sisa gaji bulan April, saya mengantongi uang Rp 500.000 dan Rp 100.000 saya simpan di ATM, untuk uang dadakan. Dengan uang yang saya pegang, saya mencari bis yang murah. Akhirnya dengan Rp 150.000 saya mendapatkan bis tujuan Semarang dengan tarif long weekend. Berangkat dari Purwakarta pada pukul 22.30 WIB, setelah perjalanan panjang, saya sampai di Kota semarang pada pukul 09.00 WIB, dengan perjalanan tempuh kira-kira 10 jam dan macet.

Di Semarang saya mempunyai teman bernama Elang yang sedang menuntaskan kuliah akhir dan mempunyai banyak waktu luang, yang terpenting mempunyai hobi yang sama yaitu jalan-jalan dengan biaya minim alias backpacker. Tanpa banyak berpikir panjang, pada pukul 11.00 WIB, saya langsung melanjutkan perjalan menuju Dieng. Kali ini menggunakan motor. Namun ternyata tak sesuai rencana.

Perjalanan panjang yang harus saya lewati terhalang hujan. Kami putuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan berteduh dari 1 rumah ke rumah yang lain. Namun cuaca makin tak bersahabat sehingga kami harus menunda perjalanan sore itu dan memlih untuk bermalam di Temanggung. Tak pernah disangka, ternyata temanggung kota yang indah bahkan sangat indah. Ibarat kata pepatah, di kasih hati dapat jantung pula.

Esoknya sebelum melanjutkan perjalanan, kami berkesempatan menikmati pemandangan puncak gunung Kota Temanggung. Pukul 09.00 WIB pagi, kami berangkat menuju Dieng, Wonosobo. Finally, sampailah di Dieng dengan melewati jalur yang tak biasa, namun patut saya acungkan jempol dan berkata 'amazing' untuk rutenya.

Dalam hati saya berujar, "Inilah keagungan Tuhan dan Tuhan mewujudkan mimpiku." Mulai dari Telaga Warna, Candi Arjuna, Goa, Dieng Plateau Theater, bertemu dengan anak dewa 'si anak gembel' dll. Puas menikmati alam Dieng, ide gila muncul untuk lanjut ke kota Yogyakarta sebelum kembali ke Semarang hanya untuk membeli buah tangan untuk keluarga di Purwakarta.

Perjalanan panjang dengan menaiki motor kembali saya nikmati. Untuk rute Wonosobo-Yogyakarta kami menempuh perjalanan 4 jam dan termasuk makan siang. Buah tangan telah kami dapat, pukul 21.00 WIB kita sepakat untuk menyudahi perjalanan dan kembali harus menikmati perjalanan panjang dengan rute Yogyakarta-Semarang. 3,5 Jam kami lewati dengan lancar dan kali ini bermalam di Semarang. Terpaksa tidak makan malam karena tubuh sudah tidak bisa berkompromi.

Paginya, saya tak mau melewati waktu percuma, saya dan masih dengan teman saya Elang, berkeliling Kota Semarang mulai dari Kota Tua, Vihara Sam Poo Kong, Ambarawa, Lawang Sewu dan tak luput menikmati makanan khas Jawa 'Gesang ayam'. Komplit sudah perjalanan panjang dan sore itu juga saya kembali ke kota asal saya, Purwakarta. Uang di dompet masih bersisa Rp 70.000. Nice trip dan tak akan pernah saya lupakan.

sumber: http://travel.detik.com/read/2013/07/06/100000/1971158/1025/nekat-keliling-jawa-tengah-bermodal-uang-rp-500-ribu

Rabu, 24 Juli 2013

Candi Muara Takus

Candi Muara Takus

Candi Muara Takus merupakan sebuah candi Buddha yang dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar area nya terdapat pula tembok tanah dengan ukuran 1,5 x 1,5 km yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini juga terdapat beberapa bangunan candi antara lain Candi sulung / tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.

Menurut Penelitian Arkeolog Jerman FM Schnitger PhD pada 1935 – 1936 situs purbakala ini dibangun sekitar abad XI atau XII. Karena didasari pada penelitiannya terhadap struktur batu bahan utama candi. Pendapat itu disetujui Dr Bennet, setelah meneliti puing-puing keramik di sekitar candi pada tahun 1973. 

Lokasi
Situs Candi Muara Takus terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, jaraknya ± 135 km dari Kota Pekanbaru, Riau.

Taman Rekreasi Stanum

 Taman Rekreasi Stanum

Taman Rekreasi Stanum merupakan salah satu objek wisata pilihan di provinsi Riau yang sangat menarik dan strategis karena berada di atas perbukitan yang berhawa sejuk dengan pepohonan rindang dan panorama alam yang indah. Dari taman tersebut pengunjung juga dapat melihat keindahan seantaro kota Bangkinang dan sekitarnya serta terdapat berbagai jenis bunga yang indah.

Di sana pengunjung juga dapat bermain Flying Fox sepanjang 650 Meter, Shaking Bridge sepanjang 50 Meter, Circuit ATV, Paint Ball dan Skatepark. selain itu juga disediakan berbagai fasilitas, seperti tempat pemandian, mushola, gedung pertemuan, motel, villa, restoran, panggung hiburan, bioskop, taman pemancingan, arena bebek dayung dan kolam renang.

Lokasi : Taman Rekreasi Stanum Bangkinang dekat dengan pusat kota dan jalan raya.

Pacu Jalur


Pacu Jalur adalah salah satu Even Wisata Kebanggaan Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Kuantan Singingi yaitu sejenis perlombaan perahu dayung tradisional dari Riau yang berukuran panjang sekitar 25-40 m dengan awak perahu 40-60 orang.

Setiap tahunnya, sekitar tanggal 23-26 Agustus, diadakan Festival Pacu Jalur sebagai sebuah acara budaya masyarakat tradisional Kabupaten Kuantan Singingi,Riau bersamaan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pacu Jalur ini sudah masuk kalender pariwisata nasional. Perlombaan meriah ini dimulai dengan tanda yang cukup unik, yaitu dengan membunyikan meriam. Bagi Anda yang belum terbiasa mendengar suara meriam ini jangan kaget. Meriam ini digunakan karena bila memakai peluit, suara peluit  tidak akan terdengar oleh peserta lomba. Karena luasnya arena pacu dan hiruk pikuk penonton yang menyaksikan perlombaan.

Perlombaan Pacu Jalur Taluk Kuantan memakai penilaian “sistem gugur”. Sehingga peserta yang kalah tidak boleh turut bermain kembali. Sedangkan para pemenangnya akan diadu kembali untuk mendapatkan pemenang utama. Selain itu juga menggunakan “sistem setengah kompetisi”. Dimana setiap regu akan bermain beberapa kali, dan regu yang selalu menang hingga perlombaan terakhir akan menjadi juaranya.

Lokasi : Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Museum Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau

Museum padang

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau atau biasa disingkat PDIKM merupakan salah satu museum di Sumatra Barat yang di dirikan pada tahun 1990. Museum ini bersisikan berbagai macam informasi dan koleksi mengenai kebudayaan Minangkabau baik berupa dokumentasi, maupun audio visual. Museum ini dapat diakses dari jalur utama Padang–Bukittinggi, berjarak sekitar lebih kurang dua kilometer dari pusat Kota Padang Panjang.

Koleksi
  • 1.900 jilid salinan buku dan majalah terbitan sebelum tahun 1942.
  • Sekitar 1.500 judul buku terbitan setelah tahun 1950 sumbangan masyarakat dan setumpuk besar kliping berbagai koran dan majalah.
  • 90 album foto.
  • 500 foto dalam bingkai besar dan kecil.
  • 142 reel mikrofilm positif, isinya berupa naskah-naskah lama, koran-koran yang terbit sebelum Perang Dunia II, dan sebagainya; untuk membaca mikrofilm tersebut PDIKM sudah memiliki alat baca mikrofilm 35 mm positif atau negatif lengkap dengan alat penunjang lainnya.
  • Sekitar 600 kaset yang isinya mulai dari nyanyian cerita klasik Minangkabau seperti saluang, rebab, dan sebagainya sampai kepada lagu pop Minang.
  • Sekumpulan replika alat musik tradisional Minangkabau.
Lokasi 
Museum Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau terletak di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang